(Cerpen) Pohon Berpaku

in #sastra9 years ago

Oleh M. Fajarli Iqbal

“Kau sudah selesai mengaduh? Dari semalam kudengar kau terus tersedu seperti menahan sakit,” pohon dengan bekas luka di sekujur tubuhnya itu memulai percakapan dengan pohon di sebelahnya.

atributkampanye.jpg
(Image source: www.detik.com)

“Kulitku sakit sekali terkena karatan paku-paku sialan ini,” ucap pohon yang sering dipanggil Pil itu. Sesekali ia mengutuk akibat rasa sakit paku yang menempel di tubuhnya itu.

“Lah, itu kan sudah nasib kita sebagai pohon yang hidup di pinggir jalan ini. Tubuh kita sudah pasti jadi langganan tempelan gambar-gambar ini. Hei coba lihat, gambar di tubuhmu itu pakai jas hitam dan peci, sepertinya dia baik,” timpal pohon yang juga penuh bekasan paku tua dan berkarat-karat.

“Ah, kau memang tak mengerti rasa sakit yang aku rasakan, Kada. Bukannya prihatin malah jadi bahan lawakan,” Pil yang tubuhnya baru saja ditempeli poster mulai geram.

“Hahahaha aku paham bagaimana rasa sakit itu, dulu aku juga pernah dipaku seperti itu. mungkin beberapa hari lagi tubuhku ini juga akan penuh dengan poster yang katanya akan menjadi calon walikota di sini,” ucap Kada santai.

Sebuah sepeda motor tua melintas di depan mereka dan meninggalkan asap hitam yang sangat pekat. Kedua pohon itu batuk sejenak sembari menghirup udara kotor yang berasal dari knalpot sepeda motor tadi.

“Aku benci dengan motor yang model seperti itu, asapnya kotor sekali,” Pil mulai mengeluh lagi.

“Tapi itulah tugas kita, menyaring udara kotor itu,” kedua pohon itu saling bertatapan dan tertawa pasrah.
Udara kota semakin panas. Tak hanya cuaca yang panas menyengat namun situasi politik juga semakin beraroma busuk. Kedua pohon yang terletak di pinggir jalan dan tepat di tengah kota itu sangat paham. Sangat paham dengan suasana panas kota dan sangat mengerti situasi busuk politik merebut kursi walikota.


Musim pemilu sudah semakin dekat. Walaupun belum ditentukan kapan jadwal kampanye namun beberapa wajah kandidat calon walikota sudah mulai terpampang dimana-mana. Tak hanya di pamplet iklan resmi atau tiang listrik atau namun banyak pohon-pohon di sepanjang jalan menjadi tumbal pemilu. Mereka dipaku untuk ditempeli gambar wajah yang tersenyum, bahkan dengan paku karatan yang bengkok-bengkok. Beberapa mengeluh dan beberapa pasrah.

“Hahahaha bagaiman rasanya hah?” Pil mentertawakan Kada yang meringgis setelah ditinggal pergi sekelompok orang yang menempelkan paku di tubuhnya.

“Wah wah wah kali ini ada kandidat perempuan sepertinya,” ucap Pil sebelum Kada sempat menjawab.

“Ya, aku akui memang paku-paku ini sangat sakit. Walaupun dulu aku pernah dipaku tapi kali ini terasa makin sakit,” ucap Kada dengan suara melemah.

“Hahaha bagaimana? Kau masih menghalangi aku untuk tumbang di jalan?” kata Pil memojokkan Kada.

“Jangan, kalau kau nekat tumbang saat mobil kandidat itu lewat, kau mungkin tak hanya membunuh si kandidat itu tapi juga penumpang lainnya seperti supir yang tak ada dosa itu,” kata Kada.

“Itu kan resiko, aku sangat ingin membunuh salah satu dari mereka yang dengan seenaknnya memasang gambar wajah di tubuhku ini. Lagi pula aku sudah hafal jadwal dia melewati jalan ini,” Pil mulai menampakkan lagi ambisinya seminggu yang lalu.

“Kan aku sudah menjelaskan berkali-kali padamu, mungkin saja ini ulah tim kampanyenya yang tak tahu aturan. Mereka asal main paku saja,” ucap Kada bijak.

Pil hanya diam. Ia memilih tak berkomentar atas kalimat yang dikeluarkan Kada. Bagi dia, kandidat calon walikota itu bertanggung jawab atas prilaku bawahannya. Prioritas utamanya adalah membunuh salah satu calon itu. Ia dendam dengan wajah yang ada dalam poster di badannya itu.


Hari itu udara tak begitu panas. Walaupun matahari bersinar cerah namun hawanya masih sejuk. Embun dan udara dingin pagi masih tersisa walau matahari sudah meringsek naik. Tiba-tiba datang sekumpulan pemuda. Mereka berdiri dekat Pil dan Kada. Anak-anak muda tersebut membagikan selebaran. Dalam tulisan tersebut tercetak tulisan “Save our Earth”

“Kita harus menjaga alam kita, kita harus menjaga pohon-pohon,” ucap salah seorang pemuda yang memakai kaos bertulikan ‘Pohon Jantung Dunia’ dengan pengeras suara.

“Hari ini adalah hari Pohon Sedunia kami ingin mendesak pemerintah untuk menghentikan pembalakan liar,” ucap yang lain.
Mereka kembali membagi-bagikan selebaran tersebut untuk setiap pengendara yang lewat. Beberapa orang yang menenteng kamera mulai menjepret kameranya dan ada beberapa yang mengejak ngobrol si orator yang memegang pengeras suara.

“Lihat, masih ada yang peduli pada kita kan, makanya jangan pesimis,” ucap Kada dengan suara yang hanya mampu didengar oleh Pil.

Pil hanya diam. Memperhatikan gerak pemuda yang mengaku menyayangi alam tersebut. Sampai aksi tersebut selesai. Tiba-tiba salah seorang pemuda menghampiri Kada. Pemuda tersebut mengeluarkan poster bertuliskan ‘Lindungi Pohon’ dan tiba-tiba suara ketukan palu beradu paku terdengar. Tubuh Kada ditempeli poster.

Kada meringgis, Pil tersenyum sinis penuh kutukan sampai kemudian tertawa.


Hari berlanjut, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan Pil. Sosok bestelan jas turun. Ia memperhatikan gambarnya di tubuh Kada. Keningnya berkerut. Ia mendekati Pil dan mengusap tubuhnya.

“Maaf, pasti kamu kesakitan ya,” dia mencoba berbicara pada Pil.

Pil bingung, sosok paling ia benci tiba-tiba mengelus tubuh karatannya. Halus dan nyaman. Sosok itu berbisik tentang hidup sejahtera dan pembebasan. “Aku akan cabut paku ini dan mengakhiri penderitaanmu, doakan semoga aku menang,” ucap pria itu.

Pil diam, ia termenung, manis sekali janji yang ditawarkan pria berstelan jas itu. Niat membunuh Pil pun luntur. Kada ikut tersenyum. “Benar kataku kan, dia baik, yang kahat itu tim kampanyenya,” Kada berkata setelah pria berstelan jas itu pergi.

“Ya, mungkin niat membunuhku harus kusimpan atau kubuang,” kata Pil.


(beberapa bulan kemudian)

Suara mesin pemotong pohon meraung-raung. Pil berteriak tapi tak ada yang mendengat. Pil menangis tapi si pemegang mesin tak tahu kalau pohon yang sedang ia potong sedang berteriak. Pil kehilangan temannya. Kada telah menjadi potongan kayu. Terpotong-potong.

“Sialan kau pria berstelan jas, kau bunuh kami hanya untuk melebarkan proyek pelebaran jalan, mana janji manismu dulu,” Pil mengutuk tanpa henti. Sekejap kemudian, suara Pil juga hilang. Serpihan kayu jatuh ke tanah. Ia juga telah jadi potongan kayu.

Dari dalam mobil pria berstelan jas tersenyum. Ia melihat Kada dan Pil terpotong-potong. Dia kini jadi walikota dan tetap memakai jas itu.

“Proyek ini akan menguntungkan kita sayang,” kata pria itu mengumbar senyum bersama wanita muda di sampingnya.[]

*M. Fajarli Iqbal, Lahir di Lhokseumawe

Sort:  

Wahh..
Ini cerpen yang sangat menyentuh ,
Saya suka karya anda @fajarli
Saya tunggu karya karya anda selanjutnya.
Salam dari @moersal

Coin Marketplace

STEEM 0.05
TRX 0.33
JST 0.080
BTC 63676.30
ETH 1681.71
USDT 1.00
SBD 0.41