Rumput Hijau
Hidup adalah bagaimana cara kita memperjuangkan rasa dan pandai merasa. Sesuatu yang kita rasakan hari ini akan berdampak besar di hari nanti. Demikian orang-orang tua dulu berkata.
Tersebutah dongeng tentang rumput hijau dan setangkai mawar pada zaman dulu. Sebuah zaman dimana komunikasi tak semudah era digital kini. Rumput hijau berkata pada sang mawar,"Bolehkah aku tumbuh diantara populasimu yang sungguh penuh, menghiasi savana tanpa pernah takut terbakar di musim kering?"
"Silakan, aku tak akan pernah melarangmu tumbuh sebagaimana Tuhanku membiarkanku tetap lestari hingga detik ini," jawab rumput hijau.
Alangkah senang hati sang mawar atas jawab yangdiberikan oleh sang rumput.
Hingga suatu masa ketika orang tak lagi melihat rumput hijau sebagai sebuah keindahan, sang rumput tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya.
Dan saat musim kemarau telah melahap semua mawar yang tumbuh, sang rumput tetap saja merindukan hadirnya sang mawar untuk membuat savana tetap indah seperti dulu.
Kini sang mawar telah menjelma menjadi putri yang cantik dan mencintai rumput hijau.
Hingga tak pernah seharipun dalam hidupnya untuk melewatkan waktu tanpa bicara pada sang rumput
(sebuah dongeng yang tak jelas juntrungnya)