Ceruk Bahagia
“Ayo, Bu...” Asiah menarik lenganku perlahan. Pandanganku masih belum beralih dari rumah bercat ungu muda dan hijau tosca. Halamannya yang sempit tapi dipenuhi bunga pukul empat, kembang sepatu, dan bunga liar lainnya yang ditata dengan baik.
“Sebentar, Iyah, kenapa buru-buru sekali.” Balasku pelan sembari mataku masih memandang rumah tipe 45 yang baru selesai direhab keseluruhannya. Sore yang lembab sebagaimana hatiku. Banyak rasa yang tumbuh dengan kondisi semacam ini. Kepergian Ayah dari hidupku yang memang sudah harus menjalani peran single parent selama enam tahun, diperburuk lagi dengan utang bank yang menjerat dan membuatku terpaksa menggadaikan rumah ini, satu-satunya harta peninggalan Ayah.
“Ya, kalau bisa kita segerakan saja, kenapa harus menunggu lama-lama?” Ujar Wak Mai yang akan membeli rumah keluarga kami ini seharga 320 juta. “Kalau butuh uang cepat tentu saja tak bisa jual mahal-mahal, Ayda. 320 juta itu sudah harga yang pas. Kau bisa bayarkan 300 juta sejumlah utang kau ke bank dan 20 juta untuk modal kau buat berjualan apa lah...”
Sudah tiga bulan pembahasannya itu-itu saja, sempat membuatku depresi dan tak tahu harus bagaimana lagi. Asiah juga perlu biaya untuk keperluan sekolahnya yang hampir selesai. Ia juga ingin mengenyam bangku kuliah agar kelak tidak jadi seperti aku, menyesal kemudian hari.
“320 juta? Aydaaa... kamu tahu harga rumah itu bisa lebih mahal dari itu, kan?” sahabat baikku Naya tercengang dengan harga yang ditawarkan Wak Mai.
“Aku juga bingung, Nay. Kalau harus disita bank dan dilelang, aku tak tahu akan dibeli oleh siapa. Kalau Wak Mai yang membeli, kupikir nanti suatu hari saat aku sudah punya uang sejumlah itu lagi, Wak Mai akan mau menjualnya kembali padaku.”
“Kamu yakin? Gelagat Wak Mai yang malah memanfaatkan situasi semacam ini saja, kurasa sudah tak baik. Apa mungkin iya dia mau bantu kamu?” Ujar Naya lagi meragukan Wak Mai.
Aku tertunduk lesu. Kerja pun tak terlalu fokus, aku baru saja pindah pekerjaan dari sebuah binatu ke warung makan. Terkadang sakit asam lambungku kumat dan aku hanya bisa terbaring lemah di rumah Naya. Aku juga semakin merasa tak enak pada keluarga kecil Naya.
“Ayda... Ayda... aku tak bisa membantu apa-apa. Kalau aku punya uang, sudah kubayarkan utang bank itu dan kau tetap bisa memiliki rumah itu, atau aku akan membelinya dengan harga pantas.” Ujar Naya suatu ketika. Aku juga paham sekali kondisi Naya, bekerja sebagai guru honor di sebuah sekolah swasta, suaminya juga masih belum memiliki pekerjaan tetap. Tapi aku tahu orang baik seperti Naya hidupnya akan selamat, meningkat perlahan dan pasti. Apalagi aku tak henti-henti mendoakannya yang sudah tiga tahun berumah tangga namun belum dikaruniai momongan.
“Aku tak tahu harus membalas bagaimana, Nay.” Kami duduk di teras rumahnya suatu malam. Saat Asiah sedang asyik mengutak-atik soal-soal ujian masuk PTN di ruang depan.
“Ah, Ayda... kita sahabat sejak SD, walau saat kau menjadi TKW di Malaysia dulu kita sempat putus kontak, aku tahu kamu tetap Ayda yang dulu. Kamu tahu, Ay? Hanya kamu yang sanggup dibebankan-Nya ujian seberat ini. Sebab Tuhan tahu kamu orang yang kuat dan tak akan kufur nikmat.” Jawab Naya.
“Iya... kalau kuingat lagi masa itu...kurasa dari situlah awal mula petaka, Nay. Aku yang membuat Bunda sakit-sakitan. Kenekatanku selama ini karena kekurang pahamanku arti hidup yang sesungguhnya...”
“Jangan disebut-sebut lagi hal itu, Ay. Kita sekarang ini mencari solusi, bukan mengungkit-ungkit masa lalu...” Sela Naya.
“Biar saja, Nay. Biar aku keluarkan semuanya. Supaya aku lega. Biar kusebutkan satu per satu penyesalan supaya kelak tidak terjadi pada anakku atau pun siapa saja yang berada dalam pilihan sepertiku. Seandainya aku tak silau dengan materi, iming-iming uang banyak jika bekerja, barangkali tidaklah seburuk ini. Seandainya aku mendengar petuah Bunda dan sekolah dengan sungguh-sungguh...mungkin aku sudah hidup nyaman sepertimu. Kupikir dulu setamat SMA aku bisa bekerja dan punya cukup banyak uang atau punya pekerjaan yang mapan lalu menikah dengan orang yang kucintai. Untuk apa berpeluh-peluh belajar dan menghabiskan uang Ayah dan Bunda dengan kuliah. Sekarang... mempertahankan rumah peninggalan Ayah pun aku sudah tak mampu...”
“Kamu sudah menebusnya dengan merawat Ayah sampai ia berpulang, Ayda. Sudahlah.”
Aku bergeming. Terlalu sakit perjalananku dan tak mampu kutangisi, sebulir air mata pun tak mampu kukeluarkan. Apalagi saat ini Wak Mai tak henti-hentinya memaksaku menjual rumah itu seiring dengan tekanan pihak bank yang terus-terusan seperti teror di hari-hariku.
Aku bekerja dengan giat di tempat kerjaku kini. Tenggat waktu seminggu lagi dari bank, aku bersimpuh saing malam meminta pada Yang Maha Kaya agar dikeluarkan dari kesulitan merantai ini. Aku juga bekerja sungguh-sungguh di rumah Naya untuk meringankan pekerjaan rumah tangganya. Kulihat rona bahagia setiap Naya pulang bekerja sore hari. Katanya ia malah menambah jam mengajar dan karirnya sebagai guru menanjak baik. Suaminya pun sudah sering ada proyek kecil-kecilan bersama temannya.
Perasaanku jelang tenggat waktu semakin tak karuan, tapi aku ingat pesan terakhir Ayah yang sudah memaafkan kesalahanku di masa lalu dan memintaku agar selalu berprasangka baik pada Tuhan. Kupikir jalanku sudah akan lapang karena Ayah sudah meridai aku dan tinggal bagaimana usahaku ke depan.
“Kau perempuan yang sudah Tuhan pilih untuk ujian yang pantas, Ayda. Sabarlah dan yakin kau mampu melaluinya.” Kata-kata Naya kerap memotivasiku.
Setiap malam kupandangi wajah Asiah dan mengatakan pada diri sendiri, hilang biarlah hilang semua harta yang kupunya, tapi tidak dengan Asiah. Aku akan tetap tegar dan hidup bersahaja di depannya.
Pagi-pagi aku tersentak bangun karena mendengar suara di kamar mandi. Aku tergopoh dan menyaksikan Naya terduduk lemas di kloset dan pintu kamar mandi menganga. Cairan kuning keluar dari mulutnya. Ia muntah sejadi-jadinya hingga tak ada lagi yang bisa dikeluarkan.
Aku membantunya menyeka wajah dan mengambilkan handuk. Kutuntun ia perlahan ke meja makan. Membuatkan teh hangat dengan sigap.
“Kenapa kamu, Nay? Aduuh...” pekikku cemas. Naya hanya menggeleng lemas. “Nay, walau aku sudah bantu-bantu di rumah, bukan berarti kamu bisa bekerja dengan bebas di luar tanpa ingat makan dan istirahat. Kamu nggak makan siang kemarin?” cecarku dengan nasihat dan tanya.
Suami Naya baru akan pulang lusa. Aku tidak pergi bekerja ke warung hari ini dan lusa juga aku harus memutuskan rumah dijual atau disita oleh bank. Aku sudah pasrah dengan dua kemungkinan buruk itu. Sepertinya walau berat, aku akan menjualnya pada Wak Mai.
Subuh berikutnya aku dibangunkan oleh suara ketukan pintu depan. Aku yang memutar kunci dan mendapati suami Naya di depan pintu. Ia terlihat cemas.
“Bagiamana kondisi Naya, Kak?” tanyanya tak sabar sambil membuka kaos kaki di ruang tamu.
“Sudah mau makan dia, Bang. Ini nampaknya belum bangun karena tadi pukul tiga masih muntah-muntah. Saya kira Abang pulang lusa..” jawabku.
“Iya, harusnya. Tapi perasaanku tak enak,” katanya sambil mengambil tas dan menuju kamar. Aku memang belum akrab dengan suami Naya. Karena termasuk jarang mengobrol sebelum aku tinggal di sini. Ia memanggilku Kakak dan aku menyapanya Abang dengan alasan agar lebih santun.
Aku baru saja menyelesaikan berberes rumah dan salat Dhuha ketika kubukakan pintu, Naya dan suaminya baru memarkirkan motor matic mereka. Kulihat wajah mereka luar biasa cerah dan sumringah walau Naya masih tampak pucat.
Aku terbawa aura bahagia walau baru saja membaca pesan dari Wak Mai. Mungkin sore ini kami akan bertemu untuk persiapan besok pagi menemui notaris yang direkomendasikan Wak Mai. Aku menyerah walau belum ikhlas mengenai harganya. Tapi apa boleh buat, batinku.
“Ayda, kamu ke mana? Ayo, duduk di sini.” Panggil Naya di ruang tengah. Ia berselonjor di depan teve dan suaminya menyusul. Aku segan sekali. Apalagi aku mendengar kabar burung dari Wak Mai bahwa aku menjadi buah bibir tetangga-tetangga, janda yang tak tahu malu, menumpang di rumah keluarga muda. Menyusahkan dan bukan tidak mungkin berniat menggoda suami sahabatnya sendiri. Anak gadisnya sama saja, sebelas dua belas dengan ibunya.
Tapi karena aku tak pernah berniat demikian dan kondisiku sangat memaksa, Naya pun menegaskan ia tak pernah berpikir seperti itu. Akhirnya aku menebalkan muka saja, pura-pura tak dengar, tapi jauh di dalam hatiku sangat tidak nyaman.
Aku duduk di sebelah Naya, kulihat ia sedang mengupas mangga. Bukan mangga muda memang.
“Alhamdulillaah, Ayda...aku mengandung calon bayi.”
Aku terperangah dan tak bisa berkata-kata. Aku senang sekali dan ah..kupandangi mangga tadi. Lalu teringat suasana pagi dan Naya yang pucat, sering mual dan muntah. Duh! Benar. Aku tak ingat lagi pernah mengalami hal yang sama saat mengandung Asiah di bulan-bulan pertama.
“Ayda...” panggil Naya menyadarkanku. Aku memeluk Naya dengan haru.
“Alhamdulillaah...” akhirnya kata syukur terucap.
“Satu hal lagi...hm... gimana, Bang?” Naya memandang suaminya memberi kode.
“Begini, Kak... aku punya teman yang kebetulan sedang mencari rumah dan waktu aku tawarkan rumah Kak Ayda itu, dia sangat berminat. Ia juga bisa membeli dengan harga pantas.” Kata suami Naya pelan.
Belum selesai satu, rasa haru kembali meyeruak.
“Ayda telpon Wak Mai sekarang untuk membatalkan pembelian besok, terserah dia mau marah atau bagaimana. Selama ini aku menilai dia sangat memanfaatkan kesulitan kamu, Ay.” Sambung Naya.
Sudah lama aku tak mennagis, tiba-tiba cairan bening meleleh dan kian deras.
“Ayda... aku... maksud kami, kalau kamu nggak bersedia, nggak apa-apa...” ucap Naya sambil meletakkan pisau dan mangga yang sedang dikupasnya.
Aku lemas sekali, setelah lelah diterpa pikiran berat selama lebih tiga bulan, lalu klimaksnya tiga hari ini. Diteror dengan rasa tak nyaman dan mimpi buruk silih berganti membuatku hoyong dan hampir hilang pegangan. Aku tersungkur pada sujud yang dalam. Bersyukur...
Naya yang akhirnya menyadari bahasa tubuhku, menuntunku duduk kembali, memelukku dengan tulus. “Terima kasih, Naya...” ucapku pelan.
Di setiap mozaik ujian ada ceruk kemudahan yang disediakan oleh Tuhan. Barangkali terlampau tersembunyi dan aku sering lalai menyadarinya. Dalam janji-Nya bukan sesudah kesulitan kemudahan datang, namun ia seiring dengan kesulitan tersebut.
Aini ndak bisa jauh dari "menulis"...
Endingnya manis
Tapi bikin nangis
Terimo kasih Kakak....dulu kak Emi yang pertamo mengajarkan menulis membaco. Membalikan diary dan buku-buku. Mengajari bhs Inggris sekalian...
Dari SD Aini membaco buku barek semacam Slilit Sang Kiai karya Emha atau buku-buku Hamka Tafsir Al-Azhar tapi sampai kini iko cuma yang mampu ditulis. Fiksi antah hapo-hapo. Hahaha
Happy ending 😍
Cieee yang udah tiga empaaat! Hahaha
Speechless dengan cerita ini...
Cieee...dibalas telak komen kemarin 😝😂😂😂😂😂 Ihaaaaaaan!
bukan dibalas kak, setengah ceritanya mirip cerita nyata yang dialami seseorang
Ooh...iya kah? Memang pada kenyataannya banyak Ayda2 lainnya dan kemudian dimanfaatkan kesusahannya untuk kepentingan sepihak.
👍👍👍
Bersama kesulitan ada kemudahan 😇
Sudah janji-Nya 😊
Syukur ceritanya enggk menggantung kak, kalau harus bersambung bakalan enggk sabar menunggu 😂 👍👏👏
Terima kasih sudah membaca yaa..
Nice story, happy ending.
Kk sukak bacanya. Ringan dan bermakna!
Thanks kak @alaikaabdullah 😍😘
Penuh haru bahagia