In Memoriam (Dalam Kenangan) WP 201
Pukul tiga lima puluh, Hujan mulai turun membelah keheningan malam ditemani gemuruh angin yang sesekali menghempas pinggiran atap rumah yang mulai usang ditelan usianya kini, Yang ada hanya seglas kopi pahit tanpa gula, Pematik api kunyalakan untuk membakar sebatang kretek cengkeh khas Indonesia. Khayalan mulai menerawang nostalgia bersama seorang rekan di pinggiran aliran sungai di kaki bukit Djuli.
Medio dua ribu enam dua pemuda berwatak pribumi bertemu di satu perguruan tinggi swasta yang menjadi tempat anak manusia membeli kredit ilmu untuk menasbihkan diri. Frontal sudah tentu, Keduanya keturunan pribumi pemberontak beda zaman. Supra standart tahun Sembilan-sembilan bodong sisa konflik membawa mereka berdua menjadi sahabat yang dibilang tidak flamboyan namun memiliki roda dua untuk menyamakan kasta dengan para anak manusia dinegeri.
“No Mercy, Tidak Mengenal Gengsi” Mungkin itu motto hidup keduanya, bagaimana tidak mulai dari menyapu sampah sisa ordikma adik adik baru, Hingga memanjat menggunduli pohon Asan disebelah akademik mereka lakoni, Hanya untuk menjaga kantong tetap berisi agar dapat mengepul asap kretek dimalam hari di ruang tiga kali tiga milik instistusi pemerintahan sendiri.
Nasib mujur datang menepi, Tidak layak hunian pemerintahan sendiri diberikan istana para akademisi antar institusi menjadi pengganti dengan jasa kedua pribumi membersihkan Surau dan ruang menuntut ilmu anak negeri. Mereka bekerja saban hari hanya untuk mendapatkan SKS privasi dari pemimpin institusi.
Alam semakin mengajari, Keduanya mulai berdikari seolah kontraktor era masa kini memenangkan tenderisasi Pemerintahan sendiri di ajang Maulid maupun Ordikma adik adik masa kini. Perjalanan masa transisi dimulai ketika pemimpin institusi menyadari kedua pemuda ini tak mudah diawasi, Setiap pemberontakan lokalisasi maupun diluar institusi mereka berdua selalu memimpin selebrasi, Istana milik institusi ditarik kembali kedua pemuda ini tak lagi berdomisili.
Tiga bulan mengungsi baru kembali namun kali ini tak satu domisili. Dili dan Djuli tak lagi bersatu, Masa transisi mengilhami selesainya SKS anak negeri tanpa perlawanan yang berarti, Sepuluh tahun berlalu meski keduanya mempersunting gadis Peusangan asli, Massa untuk bersua sulit dikehendaki. Itulah cerita kami in memoriam “Dili dan Djuli”.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat saya @muhajir.juli yang sudah bergabung disteemit platform media sosial. Siapa @muhajir.juli ?! Bagi para steemian di Aceh mungkin tidak asing lagi, Dia salah seorang jurnalis di bawah bendera aceHTrend yang di gawangi oleh Bang @rismanrachman, @muhajir.juli juga sudah menerbitkan dua karya literasi miliknya, Putoh Kawat dan Surat Dari Penjara yang baru baru ini beliau rilis dibawah payung Kawat publishing yang dipimpinnya. Banyak ilmu yang bisa dipelajari dari beliau di follow ya teman-teman steemian
Salam Hangat, Meskipun Hujan :D
Welcome to Steem Community @dilimunanzar! As a gentle reminder, please keep your master password safe. The best practise is to use your private posting key to login to Steemit when posting; and the private active key for wallet related transactions.
In the New Steemians project, we help new members of steem by education and resteeeming their articles. Get your articles resteemed too for maximum exposure. You can learn more about it here: https://steemit.com/introduceyourself/@gaman/new-steemians-project-launch
Thank you for more information in sir :)
omak keren that aduen @dilimunanzar.
saya suka saya suka hahaha
Masa lampau :D
Postingan yang menarik
Sengkyu @bangjuh
Mantap nian bukunya. Mana nih kretek cengkih khas aceh?
Hmmm.. Kretek cengkeh khas Aceh? Emang ada ya kak :D
Maju terus literasi Indonesiaa! 💪💪💪
L dah pokoknyee, de best buat loe padee dah :D