School & Students' Talents - Bilingual
The picture above was taken when the school community celebrated "Graduation Day" and farewell party for the alumni (the sixth, ninth, and the twelfth graders) of the school in 2015. As you can see in the picture, some students were doing choir while playing several instruments such as Angklung (the instrument made of bamboo), guitar, violin and drum. Mr. Arief, the art teacher, led the collaboration for performing songs; Indonesia Raya and Mars Sukma Bangsa. The students presented them very well so that the audiences could enjoy the moment very much. The performance used to welcome all the guests, parents, and the alumni to the big school event.
This one was another great performance presented by Junior High school students. We called it "Rapai Geleng". It is a traditional dance from Aceh which used Rapai for musical instrument. It is usually played by ten or more boys. Rarely most of schools enacted Rapai as an extracurricular activity at school, but we did. Sukma Bangsa included Rapai as an extracurriculer activity because the school considered that it's a part of Acehnese culture. One of school vision is creating the positive environment for the local students.
In this case, Acehnese students learn and develop themselves by joining Rapai Geleng's club in order to maintain their culture. Nowadays, not all of them are interested to know and want to play it for some reasons, of course. They are more interested to do Korean dance, to sing west songs, and then to ignore their local culture. Thus, the school try to accommodate all students' need in relation to preserve their culture. For other information, this activity held once in a week during two semesters. However, they will intensively exercise every time they will perform at the school event or join the competition against other schools.
Besides, there are also several fun extracurricular activities suggested for the girl students. They are "Choir and Traditional Dances from Aceh such as Tari Ranup Lampuan, Ratoh Duek, and Tari Kreasi Aceh". The girl students are keen on practicing the dances. They were frequently perform at almost every single school events during this academic year. They were really excited to do the exercise after school. They also became more often to practice when they followed some dance competitions.
At last, the school expects that by joining extracurricular activities, the students can develop their talents, express their interests, and improve their confidence in life.
In Bahasa Indonesia
Gambar diatas diambil pada saat sekolah mengadakan acara "Graduation Day" dan Acara Perpisahan untuk siswa-siswa kelas 6 SD, 9 SMP, dan kelas 12 SMA di tahun 2015. Sebagaimana yang ada dalam gambar, beberapa anak terlihat sedang menampilkan paduan suara sambil memainkan alat musik Angklung (alat musik yang terbuat dari bambu), gitar, biola, dan drum. Pak Arief, guru seni, yang memimpin kolaborasi mereka untuk tampil menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Sukma Bangsa. Siswa-siswi memainkan alat musik tersebut dengan sangat piawai sehingga para penonton yang menyaksikan pun sangat menikmati pertunjukan tersebut.
Yang ini adalah pertunjukan Tari Rapai Geleng yang dipersembahkan oleh siswa-siswa SMP. Dalam penampilan ini terlihat anak-anak menggunakan alat musik Rapai sebagai alunan musik pengiring tarian mereka. Tarian ini dimainkan oleh sekitar 10 atau lebih anak laki-laki. Jarang ada sekolah yang memasukkan Rapai Geleng ini sebagai kegiatan ekstrakurikulernya, akan tetapi sekolah sukma melakukannya. Sukma Bangsa menetapkan Rapai Geleng sebagai salah satu kegiatan ekstrakuriler yang harus dipilih anak karena merujuk pada prinsip untuk melestarikan budaya. Salah satu visi sekolah adalah menciptakan lingkungan yang positif bagi anak-anak Aceh, dan sehubungan dengan ini anak-anak Aceh harus tahu akan budayanya sendiri dan harus mampu mengembangkan diri melalui keikutsertaannya dalam klub Rapai Geleng untuk menjaga harta warisan budayanya. Tapi pada faktanya, tidak semua anak tertarik dan mau belajar Rapai Geleng dikarenakan alasan-alasan tertentu, seperti lebih keren kalau bisa menari ala-ala Korea, atau bernyanyi lagu barat, dan lain-lain sehingga merasa abai akan tarian dan nyanyian yang penuh petuah dan sarat nasehat dalam budaya sendiri. Oleh karena itu, sekolah mencoba untuk memfasilitasi anak agar tetap mencintai dan tidak melupakan budaya lokal dengan memasukkan unsur-unsur keacehan dalam beberapa kegiatan sekolah seperti kegiatan ekstrakurikuler. Untuk informasi tambahan, kegiatan ini dilaksanakan seminggu sekali, akan tetapi anak-anak akan latihan secara intensif saat mereka harus tampil diacara sekolah atau saat mereka harus ikut lomba diluar sekolah.
Selain itu, ada juga beberapa kegiatan sekolah yang menyenangkan lainnya yang diperuntukkan bagi siswi-siswi yaitu paduan suara dan tarian tradisional Aceh seperti Ranup Lampuan, Ratoh Duek, dan Tari Kreasi. Anak-anak yang perempuan terlihat sangat antusias karena kegiatan ini adalah yang paling sering ditampilkan hampir pada semua acara-acara sekolah disepanjang tahun ajaran ini. Mereka juga sangat rajin latihan setiap setelah pulang sekolah saat mereka harus mengikuti lomba antar sekolah.
Sekolah sangat mengharapkan bahwa dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler ini, siswa-siswi dapat mengembangkan diri dengan baik, berekspresi dengan apa yang mereka sukai, dan tentunya meningkatkan kepercayaan diri dalam keseharian hidup ini.
Good story and good pictures @city29. Tapi mengapa belum membuat jarak antara satu paragraf dengan paragraf lain? Tinggal tekan dua kali enter saja agar lebih nyaman bagi mata.
Teurimong geunaseh bg @ayijufridar atas koreksinya. Sudah saya perbaiki, hehehehe.