Mengecoh Proses # 54
“Ma! Hei, kamu kenapa?” tanya Pakde Parman bingung. "Pak Nendo yang menikah, kok kamu yang histeris!"
"Kapan mereka nikah?" tanya Bude Parman dengan tubuh gemetar karena marah.
"Dua minggu lalu."
"Dua minggu lalu, kamu baru bilang sekarang!" teriak Bude Parman dengan mata melotot memandang benci suaminya.
"Kamu tidak berhenti-henti mengadakan halal bi halal di sini!" kilah Pakde Parman ikut marah melihat emosi istrinya.
“Kenapa kamu santai-santai saja, Nendo nikah dengan Mara?” Bude Parman melemparkan gelas yang sedang dipegangnya ke arah suaminya.
“Kamu sudah gila, ya?” Pakde Parman memegang keningnya yang berdarah. "Kamu memangnya mau apa?"
Tangan Bude Parman meraih gelas lain. “Kamu yang gila! Kamu memang tidak pernah perhatian, sama anak!”
"Anak! Kamu mau Lestari nikah sama Pak Nendo? Lestari masih anak-anak, Ma!"
"Mara juga masih anak-anak. Tapi Nendo kawin sama dia!"
Gelas kedua yang dilemparnya mengenai dinding, setelah suaminya cepat-cepat lari meninggalkan ruang makan. Menghindari lemparannya. Gelas kristal itu hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.
Kurang ajar! Berani-beraninya anak kampung itu merebut calon menantunya!
Bude Parman berkacak pinggang. Dia sudah mengeluarkan banyak uang, untuk memoles Lestari. Walaupun isi kepala anak perempuannya kosong, namun kecantikan dan kemolekan Tari, bisa menutupi kekurangan itu. Toh dalam bergaul, uang lebih bicara banyak, dalam mengumpulkan pengikut.
Apa yang harus dilakukannya?
Dia tidak mau kehilangan tambang emasnya. Matanya nyalang memperhatikan sekeliling. Dia mulai terbiasa dengan segala kemewahan rumah ini. Dia tidak akan kembali ke gubuk tempatnya tidur belasan tahun terakhir.
Bagaimana mungkin Nendo mau nikah dengan anak kampung itu? Dahinya mengernyit dalam. Apa Nendo dipaksa kawin? Tapi siapa yang bisa maksa Nendo? Mamanya? Si tua cerewet yang punya panti asuhan? Tapi mana mungkin nenek sihir itu kenal Mara?
Tangannya menjambak rambut yang baru saja di tata seorang hairstylish terkenal.
Bude Parman jalan mondar mandir di ruang tamu. Otaknya berputar keras. Dia tahu kualitas wanita-wanita yang selama ini berusaha mengejar dan mendekati Nendo. Diam-diam dia sering memperhatikan Nendo saat pesta. Laki-laki itu tidak pernah menoleh dua kali, pada para wanita cantik yang dikenalkan padanya. Dia hanya mengangguk sedikit, dengan senyum resmi.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Dia mendengus keras. Sejak awal dia sudah tidak suka melihat anak itu. Benar sekali feelingnya. Orang kampung memang rakus. Itu sebabnya dia benci keluarga suaminya. Mereka semua tidak tahu balas budi. Matanya kembali menatap sekeliling ruangan.
Perabot klasik, yang dipadu dengan sofa modern, serta karpet bercorak dengan list emas, yang senada dengan warna gorden, memanjakan matanya. Detail dinding, lantai, langit-langit tinggi ditambah chandelier kristal besar senada yang didominasi warna putih, memenuhi dahaganya akan kemewahan. Benar-benar mencerminkan status sosial tinggi.
Melihat permukaan meja, kursi dan perabot lainnya yang mengkilap di terpa cahaya, membuat alisnya terangkat tinggi. Mana bisa anak kampung itu, meng-handle urusan rumah tangga sebesar ini?
Senyum lebar tersungging di bibirnya. Anak itu pasti butuh bantuannya. Seperti Nendo juga membutuhkan bantuannya saat ini. Tapi pesta apa yang sebenarnya ingin diadakan Nendo?
Hingga, ketika dia mengatakan pada sekretaris Nendo, ingin mencoba membuat pesta, untuk merayakan ulang tahun Lestari. Jawaban yang diterimanya lewat wa, 'silakan lakukan, tanpa batasan dana'. Dengan satu syarat, tidak menggunakan bagian apapun dari bangunan utama.
Semua ide dalam kepalanya, ditumpahkan tanpa tersisa, di pesta itu. Mengundang decak kagum semua orang yang diundangnya, baik teman-teman anaknya, semua kenalan, dan anggota keluarganya.
Dia menarik nafas bangga. Pesta yang direncanakannya untuk Lestari sukses besar. Sebuah pesta kebun, di tepi sungai di halaman belakang rumah Nendo. Ratusan nyala obor menerangi tempat itu. Alam juga memberinya keuntungan. Saat itu bulan purnama dengan hiasan ribuan kelap kelip bintang di langit malam.
Limpahan aneka makanan, minuman, dan snack. Musik mengalun lembut. Rangkaian bunga indah berjuntai manja. Gaun malam super mewah karya desainer ternama untuknya dan Tari. Saung-saung didirikan, bagi mereka yang ingin duduk atau bersantai bergerombol.
Tak henti-hentinya, semua orang mengatakan, Tari nampak seperti seorang malaikat. Anaknya memang sangat cantik malam itu. Sejak malam ini, anak semata wayangnya dinobatkan jadi ratu kampus.
Hanya sedikit yang mengganjal, orang-orang sekretaris Nendo, tanpa keliatan berkeliaran di luar bangunan utama. Mereka mengarahkan kembali dengan luar biasa sopan dan ramah, para tamu yang mencoba memasuki bangunan utama, karena penasaran. Hingga benar-benar tidak ada seorang pun yang bisa menghampiri bangunan itu.
Hidupnya bagai di surga sebulan terakhir, sampai berita itu sampai ke telinganya.
Bukan masalah, hiburnya pada dirinya sendiri. Kalau Nendo selalu membutuhkannya, dia akan bisa menyetir anak muda kaya itu. Istrinya yang kampungan itu, akan dibuatnya tahu diri. Dia tidak akan memaafkan anak kecil itu. Tidak boleh ada seorang pun, yang boleh merusak rencana sempurna masa depan untuk dirinya.
Tekadnya sudah bulat. Dia akan mewujudkan rencana itu. Berapa pun harga yang harus dibayarnya. Apa pun yang harus dilakukannya. Dia harus menyusun rencana baru.
Bandung Barat, Rabu 5 September 2018
Salam
Cici SW
Posted from my blog with SteemPress : https://cicisw.com/2018/09/05/novel002-054/
Wuih..lihat sosok Budhe, keliatan ambisi banget ya...apapun akan dilakukan untuk memenuhi keinginannya.
Iya Kak @nurulfitri.
Menghalalkan segala cara :)