It's For Love (20)
“Kamu jenguk apa interogasi?” Hoshi menutup laptop di pangkuannya.
Malvin berdiri, mengambil laptop Hoshi. Dia duduk kembali setelah meletakkan laptop di atas bedsite cabinet.
“Papa jangan dikasih tahu!” Hoshi mengalihkan pembicaraan. “Aku engga apa-apa.”
Malvin mengangguk menyetujui. Pandangan matanya meneliti wajah Kakaknya. “Ok. Balik lagi ke pertanyaan awal. ‘Kenapa berhenti di tengah jalan dan kenapa pindah ke sini?’”
Hoshi tersenyum. “Kamu cocok jadi intel.”
“Kak!” Alis Malvin naik tinggi ke atas.
Hoshi tersenyum lagi. Mereka begitu mirip. Tidak ada yang bisa membuat mereka teralih, bila sudah memutuskan sesuatu. “Kakak kaget melihat sesuatu…” Melihat Malvin akan bertanya lagi, dia cepat berkata, “… jangan tanya kaget apa!”
Malvin mengangguk. Terdiam. Memandang Kakaknya, menunggu jawaban pertanyaan kedua.
“Kalau tetap di pavilyun, Mama pasti bercabang pikirannya… mau nunggu di ruangan Papa atau ruangan aku… kalau di sini—“
“Bisa ditunggu Dokter Afra,” potong Malvin cepat.
“Lebih dekat juga dengan suster,” kilah Hoshi.
“Kan bisa ambil perawat 24 jam untuk jaga di sana.” Alis Malvin naik sedikit.
“Ya ampun, Malvin! Aku bukan bayi,” sergah Hoshi tertawa kecil. “Aku pengennya nemenin kamu sama Mama di samping Papa.”
Malvin menghela nafas. “Jangan pikirin Papa! Ada aku. Tenang saja. Fokus dulu ke kesehatan Kakak… ngomong-ngomong bener Kakak kenal Dokter Afra?”
Hoshi mengangguk.
“Aku engga pernah dengar Kakak cerita tentang dia sekalipun.”
“Dia seperti gunung… kalau orang lagi sedih baru keliatan… kalau orang seneng, dia selalu diselimuti halimun.”
Alis Malvin terangkat tinggi. Matanya bersinar keheranan. “Ganti genre novel, Kak?”
Hoshi tertawa kecil. Tawanya langsung berhenti, ketika tulang selangkanya terasa sakit. “Kami sudah sebelas tahun engga ketemu.”
Malvin melipat kedua tangan di dada. “Waktu itu Dokter Afra seperti apa orangnya, Kak?”
Hoshi tertegun. Adiknya serius. “Kamu bener-bener serius mau deketin Afra?”
Pertanyaan retoris.
Malvin mengangguk mantap. “Apalagi Kakak kenal dia… aku bisa tahu lebih banyak tentang dia… walau belum pernah pacaran, liat Papa sama Mama saja, aku pikir aku bisa langsung jadi pakar calon suami teladan.” Mata Malvin bersinar ketika menjawab.
“Ini bukan kamu yang biasa, Vin,” ujar Hoshi mencermati wajah Malvin. “… biasanya butuh waktu sampai bertahun-tahun bagimu, untuk percaya orang lain.”
“Aku tahu…” Malvin mengangguk-angguk. Apalagi dia aktif di intelijen. Entah, apa yang dimiliki Afra, yang langsung bisa membuatnya percaya pada dokter itu. Selain paras cantik, tentu saja.
“… awalnya, aku sangat marah Papa Mama selalu menanyakan calon istri… tapi melihat Papa saat ini… memilih wanita yang tepat, jadi mahakarya pertama kita sebagai laki-laki dewasa… wanita dalam suka dan duka… setiap laki-laki butuh wanita seperti itu,” lanjut Malvin.
Asam lambung Hoshi naik. Dia menyugar rambut.
Tubuh Malvin maju ke depan. “Aku pengen nyenangin Papa Mama, Kak… tidak ada salahnya, aku mulai memilih calon istri. Umurku sudah cukup. Toh pada akhirnya aku juga harus menikah… kalau menikah sekarang membuat Papa Mama bahagia, bukannya aku dapat beberapa keuntungan sekaligus?... punya istri hebat dan membahagiakan orangtua.”
“Kamu selalu jadi anak yang berbakti, Vin,” Perasaan bangga menyelimuti Hoshi melihat Malvin.
Hati adiknya mencair. Kenapa harus Afra?
Salam
Cici SW
Terimakasih pada Kurator @mariska.lubis, @aiqabrago, dan @levycore, KSI Chapter Bandung, @jharyadi, @samymubarraq, dan pada semua pecinta novel di manapun berada
Hoshi ini siapa @cicisw?
apa anaknya?
Hoshi ini kakaknya Malvin. Hoshi dan Afra adalah sahabat sejak kelas 1 smp
Aku single malvin hehe. Bisa dong hehe
Kelanjutannya teh @cicisw bikim penasaran mulu
Hehehe terimakasih @gethachan. Seneng banget bisa bikin penasaran
Idi tunggu cerita selanjutnya hehe
Selalu mengalir cerita Bu @cicisw
Saya suka bacanya
Alhamdulillah. Terimakasih Teh @ettydeallova
hai @cicisw, saya salut sama postingan2nya, sangat produktif..
saya juga pendidik, follow balik yah :)
Terimakasih @jamanfahmi sudah mampir ke blok saya.Siap follow balik