Cerpen: Keputusan Rara
Source: Pexels
"Alah, Rara. Paling-paling juga gak bisa beli laptop pakai uangnya sendiri. Dari dulu kan dia cengeng dan manja," Bela berbicara seadanya tanpa tahu jika Rara adiknya baru pulang kuliah dan telah berada di ambang pintu rumah.
"Biar aku buktikan kalau bisa beli laptop sendiri! Memangnya cuma kak Bela aja yang bisa," sahut Rara dengan marah, lelah, sekaligus emosi. "Mentang-mentang udah kerja aja semaunya sendiri merendahkan."
Bela yang tiba-tiba mendengar jawaban Rara terdiam seketika. Kaget dan bingung harus bagaimana karena dia pikir Rara tidak akan mendengar obrolannya dengan Mama. Tapi dia salah. Dan Bela tidak bisa lagi melanjutkan perbincangannya.
"Maafkan aku Ra ..., bukan maksudku bilang-"
"Bukan maksud bukan maksud apanya! Aku tahu kalau kak Bela sejak dulu memang kerja dan bisa dapat uang. Tapi jangan meremehkan aku! Biar aku buktiin kalau bisa beli laptop sendiri hasil kerja!"
Mama segera menenangkan Rara dan mengajaknya ke kamar. Dia menjelaskan kalau Bela tidak bermaksud jahat kepadanya. Tapi penjelasan Mama justru membuat Rara semakin jengkel dan marah.
~|~
"Tapi bener kamu pengen kerja di situ Ra? Lowongannya emang sering ada buat perempuan. Karena banyak yang gak kuat kerja lama-lama di sana loh." Cici menanyakan keputusan Rara sebelum membiarkan temannya itu berangkat melamar kerja di sebuah mini market.
Rara yang biasanya cerewet kali ini hanya membalas pertanyaan dengan wajah tanpa ekspresi.
~|~
Kardus-kardus bertumpuk tinggi dan rapi di gudang mini market. Tapi hanya dalam hitungan detik setelah Rara memasukinya sebagai karyawati baru, tumpukan kardus itu roboh seketika. Gara-garanya karena Rara tanpa sengaja bersandar di ujung kardus saat capek setelah terus menerus angkat-angkat barang.
"Aw, aw, aaah, sakit! Sakit ...!" Beberapa kardus jatuh ke tubuhnya tapi tangannya berhasil melindungi wajah dan kepala.
Teman kerjanya segera datang untuk membantu setelah mendengar teriakan. Ada yang langsung merapikan kardus yang telah berceceran. Ada yang hanya panik tanpa membantu sama sekali. Lalu ada juga salah satu dari mereka yang segera marah-marah pada Rara setelah melihat barang-barang berantakan dan rusak. Mengomel karena cara kerja Rara sangat buruk.
"Kalau sudah begini siapa yang mau tanggungjawab dengan barang-barang yang sudah kamu rusak?! Makanya kalau kerja yang benar jangan cuma cengengesan aja. Sudah dibilang hati-hati malah aja bikin gara-gara." Perkataannya tajam.
Rara yang berada di hadapannya diam dan segera menundukkan wajah. Dia sangat gugup sekaligus takut. Apalagi setelah mendengar kalau dia harus mengganti rugi barang yang telah dirusak.
~|~
"Kamu yang kuat ya Rara sayang .... Kerja itu emang berat dan kadang bisa kena musibah seperti ini." Di dalam kamar rumahnya Mama menenangkan sambil mengobati lecet yang ada di tangan.
"Tapi aku tuh beneran capek banget pas itu sampai gak sadar senderan ke kardus. Tubuhku udah lemas tapi tetap aja masih disuruh-suruh angkat-angkat." Kedua matanya sudah sembap saat mengeluh.
"Gak apa-apa, kamu yang sabar aja. Kalaupun kamu pengen berhenti kerja dan fokus kuliah aja dulu, Mama gak akan melarang dan uang ganti ruginya biar Mama ya-"
"Enggak! Pokoknya aku harus bisa dapat uang buat beli laptop sendiri. Mau aku buktikan ke kak Bela kalau aku juga bisa cari uang sendiri," tegas Rara nggak mau kalah. "Aku udah capek direndahkan terus Ma."
Mama yang sadar ucapan Bela belakangan sering merendahkan Rara tanpa sengaja akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menguatkan hati Rara agar bisa menerima keadaan yang dihadapi saat ini.
~|~
Pada kesokan harinya Rara dipanggil atasan dan dimarahi karena ceroboh bekerja. Sebagai karyawati baru dia sudah melakukan kesalahan fatal. Barang-barang yang dia jatuhkan saat itu ternyata banyak yang rusak dan tidak bisa dijual lagi.
"Saya sungguh minta maaf .... Saya tidak sengaja sampai merusak barang-barang kemarin," aku Rara berterus terang.
Atasannya menggelengkan kepala saat melihat Rara menunduk dan meminta maaf.
"Kamu itu padahal masih belum lama bekerja tapi sudah berbuat seperti ini. Sebenarnya saya kasihan."
"Saya minta maaf ...."
Rara hanya diam dan berkata meminta maaf selama obrolan. Pikirannya kalut. Bahkan saking takutnya dia tidak banyak paham dengan perkataan atasannya selain kemarahan yang membuatnya takut.
"Pokoknya saya nggak mau dengar kamu membuat masalah lagi. Kalau sampai ada masalah lagi kamu akan saya ajukan untuk dibebaskerjakan," ujarnya tanpa basa-basi lagi. "Kasus kali ini beberapa kerugian akan diambil dari gaji kamu bulan ini. Tidak semuanya, karena beberapa kerugian lainnya akan dibantu, mengingat kalau katanya kamu sudah berusaha keras bekerja."
~|~
Setelah masalah itu selesai dan sebelum Rara mengakhiri sebulan pekerjaannya di mini market tersebut. Dia mendapati fakta yang akhirnya membuatnya cukup senang.
Ternyata memang ada salah seorang senior karyawati yang sengaja membuat masalah dengan Rara, Siska. Dia melimpahkan banyak tugas pada Rara agar bisa bersantai-santai. Selain itu Siska juga jengkel ketika Rara diterima kerja sedangkan teman dekatnya yang juga melamar justru tidak diterima.
Hal itu diketahui saat salah seorang karyawati lain bernama Rere setelah menyadari ada yang tidak beres. Lalu setelah melakukan beberapa pengamatan, Rere mengetahui siapa pelakunya dan melaporkannya pada atasannya.
Dan Rara pun bisa bekerja dengan tenang tanpa mendapatkan potongan gaji.
~|~
Tapi bekerja satu bulan tidak langsung membuatnya bisa beli membeli laptop keinginannya. Rara harus bekerja lagi bulan berikutnya sebagai part time karena harus kuliah di sela-sela jam kerjanya.
Melakukan dua aktivitas bersamaan bukanlah hal mudah baginya. Rara harus membagi waktunya dengan baik, mengurangi jam bersantai-santai, dan juga kekurangan tidur saat tugasnya cukup banyak.
"Aku nggak menyangka kalau kamu ternyata bisa sampai sejauh ini," kata Cici, teman Rara yang dulu pernah mempertanyakan Rara ketika melamar pekerjaan.
Rara tidak membalas ucapan temannya. Pada wajahnya terlihat kalau dia sedang tidak tertarik berkata-kata.
Dengan melakukan dua kegiatan - bekerja dan kuliah - terus menerus dan hingga berganti bulan, akhirnya Rara bisa semakin terbiasa melakukannya. Skala prioritas dan manajemen waktunya semakin baik. Walaupun beberapa kali dia harus izin kuliah dan juga izin bekerja pada saat yang lain karena tubuhnya sakit karena terlalu memaksakan diri.
"Sudah cukup nangisnya. Sekarang waktunya kita berpisah. Aku harus pulang karena Mamaku sudah menunggu di rumah. Maaf ya," kata Cici sambil mengelus-elus Rambut Rara sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Iya," sahut Rara.
~|~
Hari Minggu, akhir pekan pertama di bulan September akhirnya Rara berhasil membeli laptop yang dia inginkan. Dia menunjukkan pada Mama dan juga kakak yang sekaligus menjadi rivalnya, Bela, seseorang yang pernah merendahkannya karena tidak memiliki uang dan dianggap manja, di ruang tamu rumah mereka.
"Ya ampun Rara sayang ...! Selamat akhirnya kamu bisa membeli laptop sendiri." Mama yang melihat Rara datang membawa laptop baru langsung menyambutnya dengan gembira.
Begitu pula Bela tak kalah bersorak senang dan mengucapkan selamat pada Rara yang telah berhasil mendapatkan laptop. Bahkan teriakan senang Bela sangat keras hingga terdengar dari rumah tetangga mereka.
"Keren banget Rara bisa beli laptop semahal dan sebagus ini. Kamu memang adik kesayangan dan semua penilaian kakak yang buruk-buruk ke kamu salah!" Bela berkata dengan penuh semangat. "Cantik banget sih laptopnya ..., warnanya dan stiker yang kamu beli juga lucu."
....
Meskipun ..., saat itu justru Rara yang seolah tidak bersemangat dengan pencapaiannya sendiri. Wajahnya sama sekali datar dan bahkan setelah kakak dan Mamanya menyoraki dan memberi ucapan semangat itu Rara tidak menunjukkan ekspresi senang.
Hal itu membuat Mama dan kakaknya bingung dan akhirnya diam memperhatikan Rara. Bahkan suasana ruangan tamu itu sampai terasa sepi beberapa saat hingga akhirnya Rara berbicara dengan menatap wajah kakaknya langsung.
"Rara minta maaf karena tidak terima dianggap manja dan bersikap sombong pada kak Bela," ucapnya dengan tulus dari dalam hati. "Bekerja ternyata bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan."
Dia mengingat masa-masa sulit ketika bekerja dan kuliah dalam waktu bersamaan. Tugas yang perlu dikerjakan sangat banyak, waktu istirahatnya berkurang, dan setiap bertemu teman maka Rara selalu ditagih pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Belum lagi pegal-pegal, lelah, dan teman jahat yang berusaha menjatuhkan dirinya. Rara benar-benar menyadari jika selama ini dia masih terlalu manja.
"Iya nggak apa-apa. Kakak juga minta maaf telah berkata kasar sama kamu, Ra," balas Bela. Tangannya mulai memeluk tubuh adiknya yang berdiri di hadapannya. "Saat itu kakak menyinggung masalah uang karena tahun depan rencananya kakak mau nikah. Kakak bukan bermaksud merendahkan kamu juga. Justru sekarang kakak bangga karena kamu telah berhasil meraih keinginan kamu. Berarti Rara memang bukan anak manja. Tapi Rara adalah seorang gadis yang kuat dan bisa mencapai segala keinginannya."
Source: Pexels
X: https://twitter.com/Bukutaqin/status/1704043612072514036?s=19