Traditional Aceh Game
Aceh is a region of a million charms and traditions. Not only in the religious context, in the cultural side that is still thick of traditionalist elements are also often colored by various elements that are very interesting when traced. One of them is a kite riding competition known as 'Tunang Layang' or sometimes called 'Geulayang Tunang'. In the frame of history, kite competitions have long been a habit and tradition of Acehnese people even recorded this one race already existed before the archipelago was formed.
A kite is an Acehnese race which is usually done after the community has finished harvesting rice in the paddy field. The reason why this race is done in the post-harvest season, is because at this time usually the dry season arrives and dry rice fields are not watery. Although in Aceh there are various types and types of kites, but kites that are allowed to follow the race is a type of koperasi Aceh.
The name of the tuner itself is taken from the specification of the winning conditions in the race, where who is the most upright kite or upright, then he is the winner. The condition of the race must have the same length of yarn while the free kite depends on the motive and strategy of each. When the race begins, the kite must be raised simultaneously with the time limit given. The winner will be judged on the most upright position of the kite. If the participant has not been able to raise a kite or spend the length of the rope given during the given time period, then the participant is technically considered void.
This competition in addition to unique is also considered very interesting. Many spectators and tourists come to watch this entertaining scene, the number of kites to be flown on one occasion is a rare moment found in festivals or races. The prizes provided by the committee are equally interesting and motivating the participants, because the prizes are not only for the contestants but also for the spectators who find the kites falling due to breaking up in the race process.
Aceh memang daerah sejuta pesona dan tradisi. Bukan hanya dalam konteks keagamaan, dalam sisi budayanya yang masih kental akan unsur tradisionalis juga kerap diwarnai oleh berbagai unsur yang sangat menarik bila ditelusuri. Salah satunya adalah lomba menaikkan layangan yang dikenal dengan ‘Tunang Layang’ atau kadang disebut 'Geulayang Tunang'. Dalam bingkai sejarah, lomba layangan sudah lama menjadi kebiasaan dan tradisi masyarakat Aceh bahkan tercatat lomba yang satu ini sudah terlebih dahulu ada sebelum nusantara terbentuk.
Tunang layang merupakan gelaran lomba masyarakat Aceh yang biasanya dilakukan setelah masyarakat selesai memanen padi di sawah. Adapun alasan mengapa perlombaan ini dilakukan pada musim pasca panen, adalah karena pada saat ini biasanya musim kemarau tiba dan sawah kering tak berair. Meskipun di Aceh terdapat beragam jenis dan tipe layangan, namun layangan yang diperbolehkan mengikuti perlombaan adalah jenis layangan Aceh.
Nama tunang sendiri diambil dari spesifikasi syarat kemenangan dalam perlombaan, di mana siapa yang layangannya paling tegak atau lebih dahulu tegak, maka dialah pemenangnya. Adapun syarat perlombaan harus memiliki ukuran panjang benang yang sama sedangkan besar layangan bebas tergantung motif dan strategi masing-masing. Ketika lomba dimulai, layangan harus dinaikkan secara sekaligus (bersama-sama) dengan batas waktu yang diberikan. Pemenang akan dinilai berdasarkan layangan yang posisinya paling tegak. Apabila peserta belum bisa menaikkan layangan atau menghabiskan panjang tali yang diberikan selama tempo waktu yang diberikan, maka peserta secara teknis dianggap gugur.
Lomba ini selain unik juga dinilai sangat menarik. Banyak para penonton dan para wisatawan berkunjung menonton adegan menghibur ini, Banyaknya layangan yang akan diterbangkan dalam satu kesempatan merupakan momen yang jarang ditemukan selain dalam festival atau perlombaan. Hadiah yang diberikan oleh panitia juga tidak kalah menarik dan memotivasi peserta, sebab hadiah bukan hanya ada untuk peserta lomba melainkan juga diberikan bagi para penonton yang berhasil menemukan layangan yang jatuh akibat putus dalam proses perlombaan.

Nice