Toke Sawit

in #indonesia8 years ago

Toke adalah istilah yang kerap digunakan di bidang perniagaan untuk seseorang yang mempunyai modal dan usaha besar, serta mempunyai pekerja di tempatnya. Ketika mendengar kata “toke”, maka yang terbayang itu adalah sosok “penting” yang menjadi bos dalam sebuah usaha. Selain itu, image lainnya yang melekat pada toke adalah: ia orang kaya. Mempunyai modal dan mampu membayar pekerjanya.

Begitu juga halnya dengan toke sawit. Ketika mendengar sebutan itu, maka yang terbayang di benak banyak orang, itu adalah orang kaya. Apalagi jika toke tersebut mempunyai kebun sawit yang luasnya berhektare-hekatare, maka kekaguman masyarakat pun semakin membuncah. Rumah megah dan mobil mewah yang didapatkan dari hasil perkebunan kelapa sawit itu sukses membuatnya ditabalkan sebagai kaya dan terhormat. Apalagi di kampung-kampung, sosok itu langsung dinilai sebagai orang sukses dan dalam sekejap menjadi orang terpandang di kampungnya. Toke sawit memang dipandang penuh pesona.

Namun di tengah kekaguman masyarakat akan luasnya perkebunan sawit yang dimiliki toke, banyak yang tidak sadar atau mungkin belum paham bahwa salah satu penyebab banjir selama ini adalah karena kehadiran tanaman sawit tersebut. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, hutan Aceh semakin hilang keperawanannya, karena sudah dialihkan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Tanaman ini diketahui tidak mampu menyerap air dengan baik. Sehingga ketika musim hujan tiba, maka tak ada lagi pepohonan di hutan yang menampungnya. Air pun terpaksa turun gunung menuju kampung dan meninggalkan bencana.

Di Aceh Singkil misalnya. Sejak beberapa tahun terakhir, belasan perusahaan perkebunan kelapa sawit telah hadir di sana. Perusahaan yang hadir dengan dalih untuk menyejahterakan masyarakat Singkil itu malah meninggalkan bencana. Rawa ditimbun, hutan digundulkan. Ribuan hektare hutan kini telah dialihkan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, alih-alih sejahtera, masyarakat Aceh Singkil harus “memanen” bencana yang dulunya “hanya” dua kali dalam setahun, kini menjadi lima kali dalam setahun.

Dalam hal ini, yang menjadi poin permasalahan utama adalah keberadaan toke sawit besar dengan perusahaan kelapa sawit di belakangnya. Toke kelas ini memang tidak begitu terlihat karena biasanya mereka tidak berdomisili di wilayah perusahaan perkebunan sawit yang dimilikinya. Sedangkan di bawah-bawahnya adalah toke sawit yang bekerja di perkebunan kelapa sawit milik toke utama. Keadaan ini semakin mengkhawatirkan ketika para toke besar ini mulai mengurus surat izin usaha dari Pemerintah. Hitam di atas putih dilakukan. Izin untuk membuka perkebunan kelapa sawit pun dilancarkan dengan mudahnya.

Ketika pelaku bisnis dan penguasa bertemu di satu meja dengan selembar surat izin usaha, maka boleh jadi, kondisi hutan akan semakin berbahaya. Karena ketika kekayaan bertemu dengan kekuasaan, maka boleh jadi dampaknya akan lebih mengerikan daripada kemiskinan itu sendiri. Kemiskinan hanya menyebabkan gizi buruk, demonstrasi, mogok makan, dan sekali-kali mencuri ayam. Itu pun jika beruntung tidak diamuk massa. Tetapi ketika kekayaan bertemu dengan kekuasaan, kelompok ini bisa mengubah sistem, membeli hukum, bahkan menimbulkan bencana kemanusiaan.
sawit.jpg
https://www.google.co.id/search?q=perkebunan+kelapa+sawit+di+singkil&safe=active&dcr=0&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjz8ODL6cfYAhWHo48KHdOYBxUQ_AUICygC&biw=1024&bih=469#imgrc=-Vr1OmAAq6bGxM:

Namun ironisnya, alih-alih dianggap perusak lingkungan, masyarakat malah kerap melihat toke sawit sebagai orang sukses dan terpandang di kampungnya. Baginya, sawit dan bencana tidak ada hubungannya. Banjir hanyalah takdir Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada. Toke sawit pun semakin masyhur di kampungnya.

Sort:  

Semakin banyak tokee.. Semakin habis hutan kita.. Dan itu artinya bencana.. :(

hehe...
Mungkin ini yang dinamakan tokecang. Sidroe jeut keu toke, sidroe keunong cang

Hahaha.. "Tokecang".. Baru dengar saya kak.. 😂

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.077
BTC 61257.99
ETH 1614.53
USDT 1.00
SBD 0.40