Bocor Ban
Tadi sore aku keluar rumah menuju warkop. Sambil ngopi sambil aku nulis ceritaku tentang Belajar Dari Bangsa Adjective. Cerita ini adalah cerita keduaku yang menganalogikan grammar ke dalam sebuah cerita. Yang pertama adalah Kerajaan Simple Present.
Langit mulai gelap menandakan matahari mulai semakin ke ufuk barat. Sudah mau waktu Maghrib. Aku pun memutuskan pulang ke rumah. Bayar kopi lalu menuju parkiran motor. Dan... Ku dapati ban motorku bocor. "Ya ampun... Sial kali gini bocor segala ini ban motor", keluhku dalam hati.
Masih nasib baik, ternyata ada tukang tambal ban pas di depan warkop tadi. Langsung kubawa motorku kesitu untuk ditambal. Masih kesal dalam hati, aku duduk menunggu motor selesai.
Terdapat tiga motor yang menunggu ditambal sama si bapak tukang tambal ban dan salah satunya motorku. "Ternyata ada orang lain yang sama sialnya seperti aku", bicaraku dalam hati.
Tapi, lama-lama aku berpikir satu hal. Bahwa ternyata hidup ini memang ada keseimbangan. Sialnya kita ternyata bisa jadi untungnya orang lain. Untungnya kita bisa saja sialnya orang lain. Aku sial ban motor bocor, tapi jadi rezeki si bapak. Bisa untuk makan keluarga si bapak. Tuhan memang sang maha perencana. Membuat hidup ini begitu seimbang dan kita saling terhubung satu sama lain.
Adzan maghrib berkumandang, bertepatan dengan selesainya si bapak menambal ban motorku. Aku pulang ke rumah. Dan tidak lupa bayar.