(REGION). ADA SEMBILAN BAHASA DI DAERAH ACEH

in #region8 years ago (edited)

INDONESIA

Aceh terdiri dari sembilan suku dimulai dari suku Aceh (mayoritas), Tamiang (Kabupaten Aceh Timur Bagian Timur), Alas (Kabupaten Aceh Tenggara), Aneuk Jamee (Aceh Selatan), Aneuk Laot, Gayo (Aceh Tengah), Simeulue dan Sinabang (Kabupaten Simeulue). Masing-masing suku mempunyai budaya, bahasa dan pola pikir masing-masing.

Setiap suku memiliki bahasa masing-masing, bahkan beberapa bahasa diantaranya sudah jarang digunkan dan diprediksi akan segera lenyap seperti bahasa haloban yang ada di simeulue dan kepulan banyak singkil.


  • Berikut ke 9 Bahasa yang ada di Aceh sampai sekarang.


Bahasa Aceh

Bahasa Aceh merupakan bahasa yang banyak digunakan masyarakat aceh pada umumnya, hampir 70% dari total penduduk aceh menggunakan bahasa aceh dalam berkomunikasi sehari-hari. Bahasa aceh memiliki dialek yang berbeda-beda seperti dialek pidie, aceh besar dan aceh selatan serta aceh utara, dialek yang akan menjadi identitas seseorang bila sedang berkomunikasi.

Bahasa Aneuk Jamee

Bahasa jamee berasal dari daerah Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya dan masih menjadi bahasa sehari-hari masyarakat disana. Bahasa Jamee juga sering di istilahkan dengan bahasa Baiko karena banyak kosa kata dalam bahasa jamee memiliki huruf vokal “o”.

Bahasa Kluet

Bahasa Kluet merupakan bahasa Ibu bagi masyarakat Suku Kluet yang mendiami beberapa kecamatan di Aceh Selatan. Bahasa ini berpusat di beberapa daerah seperti Kecamatan Kluet Utara, Kluet Tengah, Kluet Selatan dan Kluet Timur.

Bahasa Alas

Bahasa ini kedengarannya lebih mirip dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis Karo di Sumatera Utara. Masyarakat yang mendiami kabupaten Aceh Tenggara, di sepanjang wilayah kaki gunung Leuser, dan penduduk di sekitar hulu sungai Singkil di kabupaten Singkil, merupakan masyarakat penutur asli dari bahasa Alas.

Bahasa Gayo

Bahasa ini diyakini sebagai suatu bahasa yang erat kaitannya dengan bahasa Melayu kuno, meskipun kini cukup banyak kosakata bahasa Gayo yang telah bercampur dengan bahasa Aceh. Bahasa Gayo merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Aceh yang mendiami kabupaten Aceh Tengah, sebahagian kecil wilayah Aceh Tenggara, dan wilayah Lokop di kabupaten Aceh Timur. Bagi kebanyakan orang di luar masyarakat Gayo, bahasa ini mengingatkan mereka akan alunan-alunan merdu dari syair-syair kesenian didong.

Bahasa Haloban

Bahasa Haloban adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang digunakan oleh masyarakat di kabupaten Singkil, khususnya mereka yang mendiami Kepulauan Banyak, terutama sekali di Pulau Tuanku. Jumlah penutur bahasa Haloban sangat sedikit dan jika uapaya-upaya untuk kemajuan, pengembangan serta pelestarian tidak segera dimulai, dikhawatirkan suatu saat nanti bahasa ini hanya tinggal dalam catatan-catatan kenangan para peneliti bahasa daerah.

Bahasa Devayan

Seperti halnya bahasa Kluet, informasi tentang bahasa Singkil, terutama sekali dalam bentuk penerbitan, masih sangat terbatas. Bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi sebagian masyarakat di kabupaten Singkil. Dikatakan sebahagian karena kita dapati ada sebagian lain masyarakat di kabupaten Singkil yang menggunakan bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, ada yang menggunakan bahasa Minang, dan ada juga yang menggunakan bahasa Dairi (atau disebut juga bahasa Pakpak) khususnya di kalangan pedagang dan pelaku bisnis di wilayah Subulussalam.

Bahasa Simeulue

Bahasa Simeulue adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang merupakan bahasa ibu bagi masyarakat di pulau Simeulue dengan jumlah penuturnya sekitar 60.000 orang. Bahasa ini memiliki dua dialek, yaitu dialek Devayan yang digunakan di wilayah kecamatan Simeulue Timur, Simeulue Tengah dan di kecamatan Tepah Selatan, serta dialek Sigulai yang digunakan oleh masyarakat di wilayah kecataman Simeulue Barat dan kecamatan Salang.

Bahasa Tamiang

Bahasa Tamiang (dalam bahasa Aceh disebut bahasa Teumieng) merupakan variant atau dialek bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat kabupaten Aceh Tamiang (dulu wilayah kabupaten Aceh Timur), kecuali di kecamatan Manyak Payed (yang merupakan wilayah bahasa Aceh) dan kota Kuala Simpang (wilayah bahasa campuran, yakni bahasa Indonesia, bahasa Aceh dan bahasa Tamiang). Hingga kini cita rasa Melayu masih terasa sangat kental dalam bahasa Tamiang.


image google




ENGGLISH

Aceh consists of nine tribes starting from the tribe of Aceh (majority), Tamiang (East Aceh Timur District), Alas (Southeast Aceh Regency), Aneuk Jamee (South Aceh), Aneuk Laot, Gayo (Central Aceh), Simeulue and Sinabang (Kabupaten Simeulue). Each tribe has its own culture, language and mindset.

Each tribe has its own language, even some languages ​​of which are rarely used and predicted will soon disappear like the haloban language in simeulue and many singkil.

Here are 9 languages ​​in Aceh until now.

Aceh Language

Acehnese is a widely used language for aceh people in general, almost 70% of Aceh's aceh population uses the language of aceh in daily communication. The language of Aceh has different dialects such as pidie dialect, big aceh and south aceh and north aceh, the dialect that will be the identity of a person when communicating.

Language Aneuk Jamee

Jamee language comes from the area of ​​South Aceh and Aceh Barat Daya and is still the daily language of the people there. Jamee is also often termed the language Baiko because many vocabularies in jamee have the vowel "o".

Kluet Language

The Kluet language is the mother tongue for the Kluet people who live in several sub-districts in South Aceh. This language is centered in several areas such as North Kluet Subdistrict, Kluet Tengah, Kluet Selatan and Kluet Timur.

Alas Language

This language sounds more like the language used by the Karo ethnic community in North Sumatra. Communities inhabiting Southeast Aceh districts, along the foot of the Leuser Mountain, and people around the Singkil river upstream in Singkil district, are native speakers of Alas language.

Gayo Language

This language is believed to be a language closely related to the ancient Malay language, although now there is quite a lot of Gayo language vocabulary that has been mixed with the language of Aceh. Gayo is the mother tongue for the people of Aceh who inhabit Central Aceh district, a small part of Southeast Aceh region, and Lokop region in East Aceh district. For most people outside the Gayo community, this language reminds them of the mellifluous strains of the dance artistic poems.

Haloban Language

Bahasa Haloban is one of the regional languages ​​of Aceh used by people in Singkil district, especially those who inhabit Many Islands, especially on Tuanku Island. The number of Haloban speakers is very few and if efforts to progress, development and preservation do not begin immediately, it is feared that one day the language will remain in the memories of local language researchers.

Devayan Language

Like the Kluet language, information about the Singkil language, particularly in the form of publishing, is still very limited. This language is the mother tongue for some people in Singkil district. It is said partly because we find there are some other people in Singkil district who use Acehnese language, Aneuk Jamee language, some are using Minang language, and some are using Dairi (or Pakpak language) especially among traders and businessmen in the region Subulussalam.

Simeulue language

The language of Simeulue is one of the regional languages ​​of Aceh which is the mother tongue for the people of Simeulue Island with a total number of speakers of about 60,000 people. This language has two dialects, the Devayan dialect used in the sub-districts of Simeulue Timur, Central Simeulue and in Tepah Selatan subdistrict, as well as the Sigulai dialect used by the people in the area of ​​Simeulue Barat and Salang sub-districts.

Tamiang Language

The Tamiang language (in the language of Aceh is called the Teumieng language) is a variant or dialect of Malay used by the people of Aceh Tamiang district (formerly East Aceh district), except in Manyak Payed sub-district and the city of Kuala Simpang mixed, ie Indonesian, Acehnese and Tamiang languages). Until now the taste of Malay still feels very thick in the Tamiang language.

9 BAHASA DI ACEH

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.091
BTC 62612.44
ETH 1757.10
USDT 1.00
SBD 0.39