A Prostitute in a Little Mosque

in #prostitute8 years ago (edited)

*Bilingual Short Story by Ahmadun Yosi Herfanda
(Part One)

Bibir doang.jpg

If you ever had time to go down the concrete stairs in on the south side of the Affandi Museum and go into the residence area in Gajah Wong River, you would stumble upon a little mosque at the end of the narrow and steep alley.

There is nothing special about the mosque, except for the old moss covered roof, and its speaker that was held high with a branch of bamboo. If you knew what actually happened in the old mosque and the people that became its loyal prayers, then you would find a very extraordinary side of their lives.

Everytime the clock indicated that it was time for a prayer, the sound of the azan was resonated through the loudspeaker by an old, blind muazin who works as a masseuse for both becak and bus drivers. Then, a prostitute who usually works in the area at the edge of the Gajah Wong River bridge, always becomes the first who came and took the wudu water. She always sat at the furthermost saf, praying intently until the mosque’s imam came.

The next prayer that came is a pickpocket, then a kingpin in used motorbikes, two becak drivers, and a beggar who always comes last. Then the mosque’s imam, a thin aged man who was a retired rail track guardian called Pak Somad came in with his usual outfit, a worn batik, a shirt and an old prayers hat. While carrying a prayer rug , he led the prayers.

Pak Somad truly understood his loyal prayers. The pickpocket and the prostitute were treated the best, with hopes that they could leave their current work which is not respected. What really made him go crazy was the weird questions that the prayers threw at him. The prostitute called Tugiyem for example, once asked him if god would ever forgive her for selling herself in order to feed her two kids and her paralyzed mother. She also asked why the prostitutes in the side of the roads were caught by the police, while the high class ones that service the hotels are not being caught, instead they were being served to high ranking officials?

Even Bruno whose real name is unknown once asked why god created both rich and poor people, which led to homeless people, beggars, tramps and pickpockets? Why didn’t he create everyone as equally rich beings? Isn’t it easier for god? Why did he even create bad people in this world, why not create only good and decent human beings so that it feels like heaven.

Of course these questions were too much for the old imam who only graduated from public school and could only read the Quran satisfactorily. (Continued)

SEORANG PELACUR DI SEBUAH MASJID KECIL
Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

Jika kau sempat menuruni tangga beton di seberang selatan Museum Affandi dan masuk ke pemukiman rakyat kecil di ledok Kali Gajah Wong yang melintas di ujung timur kota Yogyakarta, kau pasti akan menjumpai sebuah masjid kecil di ujung gang sempit dan terjal.

Tidak ada yang istimewa pada masjid tua itu, kecuali atap gentingnya yang tampak tua dan lumutan, serta pengeras suaranya yang dipasang sangat tinggi dengan penyangga sebatang bambu besar. Tapi, jika tahu apa yang sebenarnya terjadi di masjid tua itu dan mengenal orang-orang yang menjadi jamaah setianya, kau pasti akan menemukan satu sisi kehidupan yang sangat menggetarkan perasaan.

Setiap waktu shalat Maghrib tiba suara azan selalu diteriakkan melalui pengeras suara oleh seorang muazim tua yang buta, yang sehari-harinya menjual jasa sebagai pemijat para tukang becak, tukang ojek, tukang parkir dan sopir-sopir bus kota. Kemudian, seorang pelacur pinggir jalan, yang biasa mangkal di ujung jembatan Kali Gajah Wong, selalu menjadi jamaah pertama yang datang mengambil air wudu, lalu bersimpuh di saf paling belakang, berdoa khusyuk menunggu imam masjid tiba.

Jamaah berikutnya adalah seorang pencopet, dua tukang parkir, seorang makelar motor bekas, dua orang pengemis, tiga orang tukang becak, tiga-empat warga sekitar, dan seorang pemulung yang hampir selalu datang paling belakang. Barulah kemudian imam masjid itu, seorang lelaki kurus tua pensiunan penjaga pintu lintasan kereta api yang biasa dipanggil Pak Somad, datang dengan pakaian khas, sarung batik lusuh, kemeja dan peci tua. Sambil menggelar sajadah di ruang imam dia pun siap memimpin sembahyang.

Pak Somad memahami benar siapa-siapa jamaah setianya. Pencopet dan pelacur itu pun diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dengan harapan, suatu saat nanti mereka mau meninggalkan cara mencari makan yang sama sekali tidak terhormat dan jelas-jelas dilarang agama itu. “Jika jalan yang baik, yang halal dan terhormat masih terbuka, mengapa mesti memilih jalan yang bengkok?” batin Pak Somad.

Yang sering membuat kepalanya pusing justru pertanyaan-pertanyaan aneh yang sering dilontarkan para jamaah itu padanya. Pelacur yang bernama Tugiyem itu, misalnya, pernah bertanya, apakah Tuhan mau mengampuni dosa-dosanya karena dia terpaksa menjual diri untuk memberi nafkah dua anak dan ibunya yang sudah lumpuh. Ia juga sering bertanya mengapa pelacur-pelacur di pinggir jalan selalu ditangkapi polisi, sementara pelacur-pelacur kelas tinggi di hotel-hotel dibiarkan saja, bahkan sering dihidangkan kepada tamu-tamu para pejabat, terutama tamu-tamu dari pusat?

Dan, Bruno, pencopet yang tidak jelas nama aslinya itu, pernah bertanya mengapa Tuhan menciptakan orang miskin dan orang kaya di dunia ini, sehingga harus ada gelandangan, pelacur pinggir jalan, pencopet dan pengemis? Mengapa tidak diciptakan menjadi orang kaya semua saja? Bukankah bagi Tuhan itu sangat mudah? Mengapa pula Tuhan menciptakan orang-orang jahat di bumi, tidak menciptakan yang baik-baik saja agar suasana kehidupan di dunia ini aman-aman saja seperti di surga?

Pada hari yang lain, pencopet itu juga bertanya, mengapa para koruptor, para penilep bermilyar uang negara, di negeri ini tidak ditangkapi, dan kalaupun ditangkap hanya dihukum ringan-ringan saja. Sementara, maling ayam, maling jemuran, dipukuli sampai hampir mati dan dihukum berat di penjara. “Apakar hukum di negeri ini hanya berlaku bagi orang kecil seperti saya?” katanya.

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa membuat pusing kepala imam tua yang hanya sempat menamatkan pendidikan di bangku sekolah rakyat dan hanya bisa membaca Alquran secara pas-pasan.
(Bersambung)

Sort:  

Ditunggu kelanjutannya pak @ahmadunyh. Ini cerpen menarik dan tentu saja menggetarkan. Saya menunggu kelanjutannya, Pak.

Oke, Pilo. Sehari satu bagian ya. Kelanjutannya nanti malam atau besok pagi. Pilo yg tumbuh di Aceh pasti punya tema cerpen yg lebih dahsyat lagi. Makasih Pilo...

Congratulations @ahmadunyh! You have completed some achievement on Steemit and have been rewarded with new badge(s) :

Award for the number of upvotes
Award for the number of upvotes received

Click on any badge to view your own Board of Honor on SteemitBoard.
For more information about SteemitBoard, click here

If you no longer want to receive notifications, reply to this comment with the word STOP

Upvote this notification to help all Steemit users. Learn why here!

Thanks for that urgent informatin. I like that.

Mantap ceritanya bang @ahmadunyh

Kisah yang biasa terjadi namun terkadang kita tidak menyadarinya

Ada benarnya juga, Bung Andrean. Banyak pelacur di sekitar kita dan kita sering tak peduli. Semoga kita tidak terseret ke sana. Salam

sungguh menginspirasi pak, du tunggu cerita2 selanjutnya

Terima kasih, Mas Syafriadi. Cerita berikutnya sedang saya siapkan. Semoga cukup menghibur dan mencerahkan....

Dinantikan skuelnya.....

Tks. Iman. Sedang saya siapkan....

Aku menunggu kelanjutannya, Pak @ahmadunyh

Terima kasih, Mas Suwandi. Segera saya post kelanjutannya. Tks

Cerpen yang membuat penasaran. Ditunggu kelanjutannya Pak @ahmadunyh. Semangat dan sukses selalu. Salam

Ya, Willyana. Ini segera saya posting. Biar makin bikin gregeten. . Tks

ini benar-benar bikin penasaran untuk mengikuti lanjutannya mas @ahmadunyh

Makasih, Mustafa. Bikinlah cerpen yg lebih dahsyat...

Penasaran sama kelanjutannya nih, Pak @ahmadunyh
Ini sambil belajar nyercerpen lagi. ^_^

Tks apresiasinya. Maaf baru jawab. Salam

Coin Marketplace

STEEM 0.04
TRX 0.33
JST 0.102
BTC 64978.52
ETH 1881.05
USDT 1.00
SBD 0.39